Indeks

Sastrojendro Pangruwating Diyu: Jalan Sunyi Menaklukkan Diri dan Memuliakan Kehidupan

Oleh: Kidung Tirto Suryo Kusumo*

Dalam khazanah spiritual Jawa, terdapat sebuah ajaran yang menyimpan kedalaman makna tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, sesama, alam semesta, dan Sang Pencipta. Ajaran itu dikenal dengan nama Sastrojendro Pangruwating Diyu—sebuah istilah yang dalam tradisi pewayangan dan penafsiran kebatinan Jawa kerap dihubungkan dengan pengetahuan luhur serta upaya mengatasi watak buruk yang menguasai manusia.

Penghayatan terhadap ajaran semacam ini dapat direnungkan sebagai perjalanan batin: perjalanan yang tidak berhenti pada kemampuan memahami rahasia kehidupan, tetapi berlanjut pada keberanian untuk mengoreksi diri sendiri.

Sebab, hakikat ilmu yang luhur bukanlah seberapa tinggi seseorang merasa telah mencapai pengetahuan, melainkan seberapa dalam pengetahuan itu mengubah perilakunya menjadi lebih bijaksana, rendah hati, dan bermanfaat bagi sesama.

Dalam perspektif ini, Sastrojendro Pangruwating Diyu bukan sekadar istilah yang terdengar agung dalam tradisi spiritual Jawa. Ia menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar manusia sering kali bukan berada di luar dirinya, melainkan bersemayam di dalam batinnya sendiri.

Diyu—yang dapat dimaknai secara simbolis sebagai gambaran kekuatan buruk atau sifat angkara—tidak selalu hadir dalam wujud yang menakutkan. Ia bisa menjelma menjadi kesombongan yang tersembunyi di balik kepandaian, keserakahan yang dibungkus ambisi, kemarahan yang dibenarkan atas nama kebenaran, atau keinginan untuk dihormati tanpa kesediaan menghormati orang lain.

Di situlah perjalanan spiritual menemukan maknanya: bukan sibuk menaklukkan orang lain, melainkan belajar menaklukkan ego yang terus meminta untuk diutamakan.

Ilmu yang sejati dimulai dari kesanggupan mengenali diri

Dalam pemahaman spiritual yang dekat dengan kebijaksanaan Jawa, manusia diajak untuk tidak tergesa-gesa menghakimi dunia sebelum berani memeriksa keadaan batinnya sendiri.

Seseorang dapat berbicara tentang kebenaran, tetapi belum tentu mampu berlaku adil. Ia dapat menguasai banyak pengetahuan, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan. Bahkan, seseorang dapat terlihat religius dalam ucapan, namun masih menyimpan kesombongan, kebencian, dan keinginan untuk menguasai sesamanya.

Karena itu, penghayatan ilmu tidak cukup dilakukan melalui pendengaran, pembacaan, atau perdebatan. Ilmu perlu dihidupi melalui laku—dalam kesabaran ketika menghadapi persoalan, kejujuran saat berhadapan dengan kepentingan, dan keteguhan menjaga kebenaran ketika kejujuran terasa merugikan diri sendiri.

Dalam semangat pemikiran yang hendak ditonjolkan selaku insan penghayat budaya dan spiritual nusantara, pesan moral yang dapat direnungkan ialah bahwa kesucian batin tidak diukur dari pengakuan seseorang atas kedalaman ilmunya, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri dan memperlakukan manusia lain dengan martabat.

Orang yang sungguh-sungguh belajar akan semakin menyadari keterbatasan dirinya. Semakin luas pengetahuannya, semakin besar pula kesediaannya untuk mendengarkan. Semakin tinggi kedudukan yang diraihnya, semakin kuat tanggung jawabnya untuk tidak menindas mereka yang berada di bawahnya.

Inilah laku yang menjadikan ilmu sebagai jalan pendewasaan, bukan alat untuk meninggikan ego.

Memayu hayuning bawana: ketika spiritualitas menjadi tanggung jawab sosial

Salah satu nilai penting dalam kebudayaan Jawa adalah memayu hayuning bawana, yang secara umum dipahami sebagai ikhtiar menjaga, memperindah, dan menciptakan keharmonisan kehidupan dunia.

Nilai ini mengingatkan bahwa perjalanan spiritual tidak semestinya menjauhkan manusia dari persoalan masyarakat. Sebaliknya, kedalaman batin seharusnya membuat seseorang semakin peka terhadap penderitaan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan, serta kesulitan yang dialami orang-orang di sekitarnya.

Apa artinya berbicara tentang kedamaian batin apabila seseorang membiarkan ketidakadilan terjadi di depan matanya? Apa artinya mengaku memahami kearifan leluhur apabila ia tidak lagi menghormati orang tua, mengabaikan nasib orang kecil, atau merusak alam demi kepentingan pribadi?

Spiritualitas yang hidup harus memiliki jejak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia hadir ketika seseorang memilih berkata jujur meskipun kebohongan lebih menguntungkan. Ia hadir ketika pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk melindungi rakyat, bukan memperkaya diri. Ia hadir ketika orang yang berkecukupan bersedia membantu mereka yang kekurangan tanpa mempermalukan penerimanya.

Dalam kerangka penghayatan tersebut, Sastrojendro Pangruwating Diyu dapat dijadikan refleksi moral bahwa upaya membersihkan diri dari watak buruk harus berujung pada perbaikan hubungan antarmanusia. Batin yang semakin jernih semestinya melahirkan kehidupan yang semakin adil.

Menjaga warisan leluhur tanpa terjebak dalam kesombongan spiritual

Kebudayaan Jawa memiliki kekayaan simbol, kisah pewayangan, sastra, petuah, dan tradisi laku batin yang diwariskan lintas generasi. Warisan tersebut bukan hanya peninggalan masa lalu, melainkan ruang untuk terus berdialog dengan persoalan manusia masa kini.

Namun, menghormati tradisi tidak berarti menganggap diri paling suci atau merasa memiliki kebenaran yang tidak boleh dipertanyakan.

Kearifan justru membutuhkan kerendahan hati untuk membedakan antara pengetahuan, keyakinan, pengalaman batin, dan kenyataan yang dapat diuji. Tradisi perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh, ditafsirkan secara bertanggung jawab, serta diteruskan dengan tetap menghargai keberagaman pandangan.

Di sinilah nilai budaya dan spiritualitas dapat bertemu. Kebudayaan tidak hanya menjadi kebanggaan identitas, tetapi juga sumber pembelajaran tentang tata krama, penghormatan kepada sesama, tanggung jawab, dan keseimbangan hidup.

Pesan moralnya sederhana, tetapi tidak mudah dijalankan: jangan sampai seseorang begitu sibuk mencari makna yang tersembunyi di balik ajaran leluhur hingga melupakan kebaikan yang terang-terangan dibutuhkan oleh manusia di sekelilingnya.

Sebab, penghormatan tertinggi terhadap warisan leluhur bukanlah sekadar menghafal ajarannya, melainkan menghidupkan nilai baik yang terkandung di dalamnya.

Menyatukan laku spiritual dengan kesadaran kepada Tuhan

Bagi manusia yang menjalani kehidupan beragama, pencarian makna spiritual pada akhirnya juga berhadapan dengan pertanyaan mendasar tentang hubungan manusia dengan Tuhan.

Dalam refleksi seorang Muslim, misalnya, upaya memperbaiki batin dapat didekatkan dengan konsep tazkiyatun nafs, yakni penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela, serta ikhtiar memperkuat akhlak yang baik.

Keduanya tidak harus diperlakukan sebagai ajaran yang identik. Tradisi kebatinan Jawa memiliki konteks dan penafsirannya sendiri, sedangkan penyucian jiwa dalam Islam berlandaskan tuntunan agama. Namun, keduanya dapat menjadi ruang perenungan yang berbeda tentang pentingnya mengendalikan hawa nafsu, memelihara kejujuran, dan menjauhi kesombongan.

Pada akhirnya, ukuran kedalaman spiritual bukanlah banyaknya istilah yang dikuasai atau seberapa misterius pengalaman batin yang diceritakan seseorang. Ukuran itu terlihat dalam akhlaknya: apakah ia semakin sabar, semakin adil, semakin jujur, semakin bertanggung jawab, dan semakin menghargai kehidupan.

Manusia yang merasa dekat dengan Tuhan seharusnya semakin berhati-hati dalam menyakiti sesama. Ia tidak mudah menganggap dirinya paling benar, tidak menjadikan keyakinan sebagai pembenaran untuk merendahkan orang lain, dan tidak menggunakan spiritualitas untuk memperoleh kekuasaan atas pikiran maupun kehidupan orang lain.

Dengan demikian, penghayatan ilmu menemukan arah yang lebih bermakna: bukan untuk membangun keistimewaan diri, melainkan untuk memperbaiki kualitas kemanusiaan.

Keberanian menaklukkan angkara

Jika pesan-pesan spiritual tersebut hendak dirangkum melalui narasi yang menonjolkan sosok Kidung Tirto Suryo Kusumo, titik tekannya adalah keberanian untuk menjadikan perjalanan batin sebagai cermin bagi kehidupan bersama.

Pesan yang dapat diangkat bukanlah klaim mengenai kesaktian atau kemampuan luar biasa, melainkan ajakan untuk merenungkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: manusia tidak akan mampu membawa kedamaian kepada dunia apabila ia terus memelihara peperangan di dalam dirinya sendiri.

Amarah perlu dijinakkan oleh kesabaran. Keserakahan perlu dikendalikan oleh rasa cukup. Kesombongan perlu ditundukkan oleh kerendahan hati. Kebencian perlu dihadapi dengan kejernihan pikiran, sementara ketidakadilan harus dijawab melalui keberanian yang bertanggung jawab.

Itulah bentuk penaklukan diri yang memiliki relevansi dalam kehidupan modern.

Di tengah masyarakat yang semakin bising oleh perebutan pengaruh, pertentangan kepentingan, dan keinginan untuk selalu menang, ajaran tentang pengendalian diri menjadi semakin penting.

Tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Tidak setiap kekuasaan harus digunakan untuk mendominasi. Tidak setiap pengetahuan harus dipamerkan untuk mendapatkan pengakuan.

Ada kalanya kebijaksanaan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk diam ketika emosinya menguasai, berbicara ketika kebenaran membutuhkan pembelaan, dan bertindak ketika tanggung jawab tidak boleh dihindari.

Dalam pengertian inilah perjalanan spiritual menjadi laku kemanusiaan: kesanggupan untuk tetap teguh dalam prinsip, tetapi tidak kehilangan welas asih; berani membela kebenaran, tetapi tidak dikuasai kebencian; serta menjaga warisan budaya tanpa menutup diri terhadap kebijaksanaan yang datang dari mana pun.

  • Spiritualis dan penghayat budaya Nusantara
Exit mobile version